Kamis, 15 Januari 2026

Ketika Guru Belajar Berbicara: Public Speaking sebagai Kunci Menghidupkan Pembelajaran

ditulis oleh : Darma Yeliza Putra, S.Pd.Gr.

Rabu, 14 Januari 2026, menjadi salah satu hari belajar yang bermakna bagi saya dan para guru di SMKN 1 Rupat. Bukan belajar tentang kurikulum, bukan pula tentang administrasi pembelajaran, melainkan tentang cara menyampaikan diri, gagasan, dan pengetahuan secara hidup dan bermakna. Bersama Pak Wewendra Al Rasyid, S.Sos., M.M. dari Oxal Academy Pekanbaru, kami mengikuti pelatihan bertema “Public Speaking: Berbicara Asik, Menarik, dan Karismatik di Depan Publik.”

Pelatihan hari pertama ini membuka ruang refleksi yang dalam: betapa pentingnya kemampuan public speaking bagi seorang guru. Mengajar sejatinya bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak, mempengaruhi, dan menumbuhkan keinginan belajar dalam diri siswa. Hal ini selaras dengan salah satu dari empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogik, di mana guru dituntut mampu menyampaikan informasi secara efektif, komunikatif, dan bermakna bagi peserta didik.

Public Speaking: Bukan Sekadar Berbicara, tetapi How to Deliver

Dalam sesi pelatihan, Pak Wewen menegaskan bahwa public speaking bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, melainkan tentang “how to deliver”—bagaimana sebuah pesan disampaikan dan dipahami oleh lawan bicara. Ukuran keberhasilan public speaking, menurut beliau, bukan pada panjangnya penjelasan, tetapi pada kesimpulan yang mampu ditangkap oleh pendengar. Semakin tepat pemahaman yang diterima audiens, semakin baik kualitas public speaking kita.

Bagi guru, ini menjadi pengingat penting:

Mengajar bukan soal seberapa banyak kita bicara, tetapi seberapa jauh siswa memahami apa yang kita sampaikan.

Mensyukuri Suara, Mengolahnya Menjadi Kekuatan

Salah satu bagian paling reflektif dari pelatihan ini adalah ketika kami diajak untuk mensyukuri karunia Tuhan berupa suara yang dimiliki masing-masing. Setiap guru memiliki karakter suara yang berbeda, dan di sanalah letak kekuatannya. Suara bukan sekadar alat berbicara, melainkan senjata utama guru untuk mendeliver pengetahuan, emosi, dan makna kepada siswa.

Public speaking bagi guru ibarat kunci pendekatan. Dengan suara yang terkelola baik, guru dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman, membuat siswa merasa diajak, bukan dipaksa belajar. Pembelajaran pun tidak terasa membosankan, tetapi menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.

Tantangan dalam Public Speaking yang Perlu Disadari Guru

Dalam prosesnya, Pak Wewen juga menekankan beberapa tantangan utama yang kerap dihadapi ketika guru belajar dan mempraktikkan public speaking, antara lain:

  1. Mengelola rasa gugup, terutama saat berbicara di depan banyak orang atau di situasi formal.

  2. Cara mendeliver informasi, apakah disampaikan secara hidup atau sekadar membaca teks.

  3. Memaksimalkan suara, agar jelas, tegas, dan nyaman didengar.

Beliau mengingatkan bahwa saat berbicara di depan publik—termasuk di kelas—guru sejatinya sedang mempresentasikan diri. Presentasi ini mencakup dua hal besar: verbal dan non-verbal.

  • Verbal, yakni isi informasi yang disampaikan. Apakah materi dibungkus dengan cerita, contoh, dan emosi, atau hanya sebatas teks buku.

  • Non-verbal, yang sering kali luput disadari: penampilan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, media pendukung seperti PPT, hingga hal sederhana seperti kerapian dan wangi badan.

Semua itu, sadar atau tidak, mempengaruhi cara siswa menerima pesan dari gurunya.

Teknik Suara: Nafas, Dinamika, dan Jeda

Dalam sesi praktik, kami juga diperkenalkan pada teknik vokal dengan memanfaatkan pernapasan dada dan tenggorokan. Teknik ini perlu dilatih dan dibiasakan agar suara terdengar lebih stabil, jelas, dan tidak cepat melelahkan. Selain itu, public speaking yang baik juga membutuhkan permainan dinamika suara, tempo, jeda, dan intonasi. Tanpa itu, suara guru mudah terdengar datar dan monoton.

Kami diminta membacakan sebuah kalimat reflektif:

“Bukan karena hari ini indah saya bahagia,
tapi karena saya bahagia, hari-hari terasa indah.
Bukan karena ini mudah saya menjadi bisa,
tapi karena saya bisa, maka semua menjadi mudah.”

Kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika dibaca dengan pengelolaan suara yang tepat. Dari situ kami belajar bahwa cara berbicara dapat mengubah makna dan rasa sebuah pesan.

Refleksi: Mengajar adalah Seni Berbicara dengan Hati

Dari pelatihan ini, saya pribadi banyak berefleksi. Kemampuan public speaking bukanlah keterampilan tambahan, melainkan bagian esensial dari profesi guru. Ketika guru mampu berbicara dengan sadar, terlatih, dan penuh makna, maka pembelajaran akan terasa hidup. Siswa tidak sekadar mendengar, tetapi merasa dilibatkan dan dihargai.

Belajar public speaking bagi guru pada akhirnya bukan tentang tampil hebat, tetapi tentang membantu siswa memahami, merasa aman, dan tertarik untuk belajar. Di sanalah pendidikan menemukan ruhnya.

Public Speaking dan Guru: Dukungan dari Kajian Ilmiah

Berbagai penelitian juga menguatkan pentingnya kemampuan komunikasi dan public speaking bagi guru.
Penelitian oleh Hattie (2009) menunjukkan bahwa kejelasan komunikasi guru memiliki pengaruh signifikan terhadap keberhasilan belajar siswa. Sementara itu, Mehrabian (1971) menekankan bahwa efektivitas pesan sangat dipengaruhi oleh unsur verbal dan non-verbal secara bersamaan.

Selain itu, studi oleh Darling-Hammond (2017) menegaskan bahwa guru yang terus mengembangkan keterampilan komunikasinya cenderung mampu menciptakan iklim kelas yang lebih positif dan partisipatif.

Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat, termasuk dalam hal berbicara. Sebab, di setiap kata yang kita ucapkan, ada masa depan yang sedang kita sentuh.



Jumat, 09 Januari 2026

 

Guru yang Terus Belajar: Menjaga Makna Mendidik di Tengah Rutinitas

Oleh : Darma Yeliza Putra, S.Pd.Gr.

Pendahuluan: Mengajar Bukan Garis Akhir Belajar

Menjadi guru sering dipersepsikan sebagai titik akhir dari proses belajar formal. Setelah lulus, mendapat sertifikat, dan memasuki ruang kelas, seolah tugas utama tinggal mengajar: datang ke sekolah, menyampaikan materi, memberi tugas, lalu pulang. Padahal, dalam dunia yang terus berubah, justru di sanalah tantangan terbesar seorang guru dimulai.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menyudutkan profesi guru—sebaliknya, ia lahir dari kepedulian. Kepedulian bahwa kualitas pendidikan sangat bergantung pada sejauh mana guru bersedia terus belajar, bertumbuh, dan merefleksikan praktik mengajarnya.

Ketika Guru Berhenti Belajar

Fenomena guru yang berhenti belajar bukanlah sesuatu yang muncul tiba-tiba. Ia sering lahir dari kelelahan, beban administrasi, rutinitas yang menumpuk, dan minimnya ruang refleksi. Ketika guru berhenti belajar, beberapa hal mulai terlihat:

  • Pembelajaran menjadi repetitif dan kurang relevan dengan kebutuhan zaman

  • Pendekatan mengajar tidak lagi mempertimbangkan keberagaman karakter dan kebutuhan siswa

  • Guru cenderung mengandalkan cara lama meski konteks peserta didik telah berubah

Dalam jangka panjang, berhentinya proses belajar guru berisiko menjadikan pendidikan sekadar aktivitas teknis, bukan proses memanusiakan manusia.

Fenomena Rutinitas: Datang, Mengajar, Pulang

Tidak sedikit guru yang terjebak dalam rutinitas: datang ke sekolah, menyampaikan materi sesuai buku teks, menyelesaikan jam mengajar, lalu pulang. Rutinitas ini tidak selalu lahir dari ketidakpedulian, melainkan sering kali dari sistem yang kurang memberi ruang bagi guru untuk bereksplorasi dan bertumbuh.

Namun, ketika rutinitas ini berlangsung terlalu lama tanpa refleksi, fokus pendidikan bergeser. Mengajar menjadi sekadar menyelesaikan kewajiban, bukan lagi upaya sadar untuk mendidik. Padahal, keberhasilan siswa tidak hanya ditentukan oleh apa yang diajarkan, tetapi bagaimana guru memahami, mendampingi, dan membangun relasi dengan mereka.

Apa Kata Penelitian dan Jurnal Pendidikan

Berbagai penelitian menegaskan pentingnya guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. Darling-Hammond dkk. (2017) menunjukkan bahwa professional learning yang berkelanjutan berdampak signifikan pada peningkatan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa.

Hattie (2009) dalam Visible Learning menekankan bahwa guru yang reflektif—yang terus mengevaluasi praktik mengajarnya—memiliki pengaruh besar terhadap capaian belajar siswa. Sementara itu, penelitian Timperley et al. (2007) menegaskan bahwa pembelajaran profesional guru yang berfokus pada kebutuhan siswa mampu mengubah praktik kelas secara nyata.

Temuan-temuan ini menguatkan satu pesan penting: kualitas pendidikan tidak dapat melampaui kualitas pembelajaran guru.

Dampak Ketika Guru Terus Belajar

Ketika guru terus belajar, perubahan tidak hanya terjadi pada dirinya, tetapi juga pada ekosistem sekolah:

  • Guru menjadi lebih adaptif terhadap perubahan kurikulum dan kebutuhan siswa

  • Pembelajaran menjadi lebih bermakna, kontekstual, dan humanis

  • Relasi guru–siswa tumbuh lebih kuat karena dilandasi pemahaman, bukan sekadar otoritas

Guru yang belajar memberi teladan nyata bahwa belajar adalah proses seumur hidup, bukan kewajiban yang berhenti di bangku sekolah.

Belajar Bisa dari Mana Saja: Termasuk dari Sesama Guru

Belajar tidak selalu harus melalui pelatihan formal atau seminar besar. Sesama guru di sekolah sejatinya adalah sumber belajar yang sangat kaya. Diskusi sederhana di ruang guru, berbagi praktik baik, atau saling bertanya tentang pendekatan pembelajaran dapat menjadi proses belajar yang bermakna.

Sayangnya, gengsi dan rasa sungkan sering menjadi penghalang. Tak jarang guru merasa bertanya berarti mengakui ketidaktahuan. Padahal, justru dengan bertanya, kita membuka ruang untuk bertumbuh. Tidak ada guru yang sempurna, dan tidak ada proses belajar tanpa kerendahan hati.

Tips Menjadi Guru Pembelajar Sepanjang Hayat

A. Tips Jangka Pendek (Harian–Bulanan)

  1. Refleksi Singkat Setelah Mengajar
    Luangkan 5–10 menit setelah kelas berakhir untuk bertanya pada diri sendiri: apa yang berjalan baik hari ini? Apa yang perlu diperbaiki? Refleksi kecil yang konsisten jauh lebih berdampak daripada evaluasi besar yang jarang dilakukan.

  2. Belajar dari Satu Siswa Setiap Hari
    Cobalah memahami satu siswa lebih dalam setiap hari—cara belajarnya, responnya, atau kesulitannya. Dari siswa, guru sering menemukan pelajaran paling jujur tentang efektivitas mengajar.

  3. Bertanya ke Sesama Guru Tanpa Rasa Gengsi
    Diskusi singkat di ruang guru, bertanya metode yang berhasil, atau meminta saran bukan tanda kelemahan, melainkan sikap profesional. Tidak ada guru yang tumbuh sendirian.

  4. Membaca Sedikit tapi Rutin
    Tidak perlu langsung membaca buku tebal. Artikel pendek, refleksi pendidikan, atau satu bab buku sudah cukup asalkan dilakukan secara konsisten.

B. Tips Jangka Panjang (Tahunan–Berkelanjutan)

  1. Membangun Identitas Diri sebagai Pembelajar
    Lihat diri Anda bukan hanya sebagai pengajar mata pelajaran, tetapi sebagai pembelajar sepanjang hayat. Identitas ini akan memengaruhi cara Anda bersikap terhadap perubahan.

  2. Aktif dalam Komunitas Guru atau Literasi
    Mengikuti MGMP, komunitas belajar guru, atau forum literasi membuka ruang dialog dan pertukaran praktik baik. Belajar menjadi proses sosial, bukan beban individual.

  3. Mendokumentasikan Praktik Mengajar
    Menulis jurnal mengajar, blog refleksi, atau catatan pembelajaran membantu guru melihat perkembangan dirinya dari waktu ke waktu. Dokumentasi adalah bentuk belajar yang sering terabaikan.

  4. Belajar Berbasis Masalah Nyata di Kelas
    Alih-alih mengejar tren pendidikan, fokuslah pada masalah nyata yang dihadapi siswa. Dari sanalah pembelajaran guru menjadi relevan dan bermakna.

  5. Menjaga Kerendahan Hati Profesional
    Mengakui bahwa kita belum tahu segalanya adalah fondasi pembelajaran sejati. Kerendahan hati bukan mengurangi wibawa guru, justru menguatkannya.

Penutup: Guru sebagai Pembelajar Sepanjang Hayat

Menjadi guru bukan berarti berhenti belajar. Justru, tanggung jawab mendidik menuntut kita untuk terus memperbarui cara berpikir, memperdalam pemahaman, dan merefleksikan praktik. Di tengah tantangan pendidikan hari ini, guru yang mau belajar adalah harapan terbesar bagi lahirnya generasi yang berpikir kritis, berempati, dan berdaya.

Belajar bukan tentang merasa kurang, tetapi tentang keberanian untuk terus bertumbuh. Dan di situlah makna terdalam profesi guru: bukan hanya mengajar, tetapi juga terus belajar.


Daftar Referensi

Darling-Hammond, L., Hyler, M. E., & Gardner, M. (2017). Effective Teacher Professional Development. Palo Alto, CA: Learning Policy Institute.

Hattie, J. (2009). Visible Learning: A Synthesis of Over 800 Meta-Analyses Relating to Achievement. London: Routledge.

Timperley, H., Wilson, A., Barrar, H., & Fung, I. (2007). Teacher Professional Learning and Development. Wellington: Ministry of Education.

OECD. (2019). Teachers and School Leaders as Lifelong Learners. TALIS 2018 Results, Volume I. Paris: OECD Publishing.

Kamis, 08 Januari 2026

 

Menyambut Semester Genap: Bukan Sekadar Ganti Kalender, Tapi Tentang Memperbarui Semangat Belajar

Tahun ajaran baru di semester genap seringkali datang dengan suasana yang berbeda. Setelah jeda libur yang cukup panjang, ada tantangan besar bagi kita sebagai pendidik: Bagaimana menyalakan kembali api semangat di ruang kelas?

Baru-baru ini (07 Januari 2026), saya menyimak sebuah webinar inspiratif dari kanal YouTube SMA PGRI LARANGAN. Video tersebut bukan sekadar tutorial administrasi, melainkan sebuah pengingat bahwa persiapan yang matang adalah separuh dari keberhasilan. Berikut adalah refleksi dan ulasan mendalam yang saya rangkum untuk kita semua.

Berikut link Video Webinarnya : Link Materi Webinarnya
Berikut link Materi dari narasumbernya : Link Materi Presentasinya


Refleksi: Belajar dari Jejak di Semester Ganjil

Langkah pertama yang dibahas dalam pelatihan tersebut adalah Evaluasi dan Refleksi. Seringkali kita terlalu terburu-buru mengejar materi baru hingga lupa menengok ke belakang. Apakah metode kemarin sudah menyentuh hati siswa? Di mana letak kegagalan komunikasi kita?

Refleksi ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menemukan "ruang tumbuh". Seperti yang disampaikan narasumber, semester genap adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki apa yang belum tuntas di semester sebelumnya.

8 Pilar Kesiapan: Bekal Guru untuk Melangkah

Untuk memastikan langkah kita di semester genap lebih bermakna, ada delapan instrumen kunci yang perlu kita siapkan dengan hati:

  • Evaluasi dan Refleksi Semester Ganjil Guru diminta meninjau kembali apa yang sudah berjalan baik dan tantangan apa yang dihadapi selama semester sebelumnya. Refleksi ini menjadi landasan untuk memperbaiki kualitas interaksi dan hasil belajar siswa di semester genap.

  • Menyiapkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Penyusunan SKP sangat penting untuk menetapkan target kerja satu semester ke depan. Ini mencakup perencanaan tugas utama pengajaran, evaluasi, hingga tugas tambahan atau pengembangan profesi.

  • Meninjau Program Tahunan (Prota) Melihat kembali Prota untuk memastikan alokasi waktu dan standar kompetensi yang harus dicapai hingga akhir tahun ajaran masih sesuai dengan target awal.

  • Menyusun Program Semester (Promes) Genap Menjabarkan rencana pembelajaran mingguan secara detail selama semester genap, termasuk penentuan jadwal ujian tengah semester, ujian akhir, dan kegiatan sekolah lainnya.

  • Menyusun Modul Ajar (RPP) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lebih inovatif. Di era Kurikulum Merdeka, guru didorong untuk menyusun Modul Ajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi agar sesuai dengan kebutuhan unik setiap siswa.

  • Merencanakan Penilaian (Asesmen) Siswa Menentukan metode penilaian yang akan digunakan, baik formatif (selama proses) maupun sumatif (akhir materi). Guru perlu menyiapkan instrumen penilaian yang objektif dan terukur sejak awal.

  • Menyiapkan Bahan Ajar dan Sumber Belajar Selain buku teks, guru sebaiknya menyiapkan materi pendukung seperti artikel, video, atau bahan ajar digital lainnya yang relevan agar penyampaian materi tidak monoton.

  • Merancang Media Pembelajaran yang Menarik Memilih media yang interaktif (seperti alat peraga atau aplikasi edukasi) untuk membangkitkan kembali semangat belajar siswa yang biasanya menurun setelah liburan panjang.

Pesan Inspiratif: Mengajar dengan Hati, Menyiapkan dengan Logika

Satu hal yang saya petik dari pelatihan ini adalah bahwa profesionalisme guru dimulai dari persiapan. Saat kita masuk ke kelas dengan persiapan yang matang, kita sebenarnya sedang mengirimkan pesan kepada siswa bahwa "Kalian sangat berharga, sehingga saya menyiapkan yang terbaik untuk pertemuan kita hari ini."

Semester genap adalah garis finish bagi tahun ajaran ini. Mari kita awali bukan dengan beban, tapi dengan kesiapan yang penuh inspirasi.


Tips Singkat untuk Rekan Guru:

Jangan mencoba menyelesaikan kedelapan hal tersebut dalam satu malam. Mulailah dari satu poin setiap harinya, dan rasakan bagaimana kepercayaan diri Anda meningkat saat melangkah masuk ke gerbang sekolah di hari pertama nanti.

Mari berdiskusi! Dari 8 poin di atas, mana yang menurut rekan-rekan paling menantang untuk dipersiapkan? Tulis di kolom komentar, ya!

Minggu, 04 Januari 2026

 

Literasi di Tengah Ketidakpastian: Membaca Dunia Bersama Paulo Freire

oleh : Darma Yeliza Putra, S.Pd.,Gr.

Membaca Realitas Bersama Komunitas Literasi

Bagi komunitas literasi, awal tahun bukan hanya soal pergantian kalender, tetapi juga momen refleksi bersama. Bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia, pernyataan pemerintah yang berlapis, serta derasnya arus informasi di media dan media sosial menghadirkan situasi yang membingungkan: informasi tersedia di mana-mana, tetapi pemahaman tidak selalu tumbuh seiring dengannya.

Dalam kondisi seperti ini, literasi menemukan maknanya yang paling esensial. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku atau membagikan kutipan, melainkan proses bersama untuk memahami realitas, mendengar pengalaman sesama, dan menumbuhkan kesadaran kritis. Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi sangat relevan bagi gerakan dan komunitas literasi.

Paulo Freire dan Gagasan Literasi sebagai Kesadaran Kritis

Dalam karyanya yang berpengaruh, Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menolak pemahaman literasi yang sempit. Bagi Freire, literasi adalah proses pembebasan—sebuah jalan menuju kesadaran kritis (critical consciousness). Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup di dunia, tetapi hidup bersama dunia dan memiliki kemampuan untuk merefleksikannya.

Freire membedakan antara membaca kata (reading the word) dan membaca dunia (reading the world). Membaca kata adalah kemampuan teknis; membaca dunia adalah kemampuan memahami realitas sosial, politik, dan kultural yang melingkupi kata-kata tersebut. Tanpa kemampuan membaca dunia, seseorang dapat saja melek huruf, tetapi tetap tidak berdaya secara kritis.

Ketidakpastian Informasi: Pemerintah, Media, dan Publik

Dalam konteks kebencanaan dan kebijakan publik, ketidakpastian sering muncul bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena informasi yang tidak utuh, tidak dialogis, atau tidak berpijak pada pengalaman masyarakat. Pernyataan resmi pemerintah kadang terasa normatif dan prosedural, sementara realitas di lapangan menunjukkan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dan mendesak.

Freire menyebut pola komunikasi satu arah ini sebagai banking model of education, sebuah model di mana pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang ditransfer secara sepihak dari yang dianggap tahu kepada yang dianggap tidak tahu. Dalam praktik kebijakan, pola ini terlihat ketika negara berbicara, sementara masyarakat hanya diminta mendengar.

Akibatnya, muncul jarak antara pesan pemerintah dan pemaknaan masyarakat. Ketika masyarakat berharap empati, kehadiran, dan kejelasan, yang mereka terima sering kali adalah data, angka, atau imbauan administratif. Ketidakselarasan inilah yang memicu kekecewaan dan menurunnya kepercayaan publik.

Literasi sebagai Jembatan antara Informasi dan Keputusan

Freire menegaskan bahwa literasi sejati selalu berujung pada praxis refleksi yang diikuti oleh tindakan sadar. Dalam situasi krisis, literasi berperan sebagai jembatan antara informasi dan keputusan. Ia membantu individu dan institusi untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi merespons secara reflektif.

Bagi masyarakat, literasi kritis memungkinkan warga:
- memilah informasi yang faktual dan manipulatif,

- memahami kepentingan di balik narasi kebijakan,
- serta menyuarakan aspirasi secara sadar dan bermakna.

Bagi pemerintah, literasi dalam makna Freirean, menuntut kemampuan mendengar, berdialog, dan membaca realitas sosial sebelum menetapkan kebijakan. Tanpa itu, kebijakan berisiko menjadi tepat secara administratif, tetapi keliru secara kemanusiaan.

Membaca Bencana sebagai Teks Sosial

Freire mengajarkan bahwa realitas sosial dapat dibaca layaknya teks. Bencana alam, dalam perspektif ini, bukan hanya peristiwa alamiah, tetapi juga teks sosial yang memuat pesan tentang relasi manusia dengan lingkungan, tata kelola negara, dan keberpihakan kebijakan.

Ketika respons terhadap bencana lebih menekankan citra, simbol, atau stabilitas narasi politik, sementara kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi, kita sedang menyaksikan kegagalan membaca teks sosial tersebut. Literasi kritis mengajak kita bertanya: siapa yang diuntungkan dari narasi tertentu, dan siapa yang terpinggirkan?

Relevansi Pemikiran Freire di Era Informasi Berlebih

Di era digital, tantangan literasi tidak lagi terbatas pada akses terhadap informasi, tetapi pada kemampuan menafsirkan dan memaknainya. Informasi pemerintah, pemberitaan media, dan opini warganet bercampur tanpa batas yang jelas. Dalam situasi ini, gagasan Freire tentang dialog menjadi semakin penting.

Dialog, bagi Freire, bukan sekadar percakapan, melainkan relasi yang setara antara subjek yang sama-sama belajar. Tanpa dialog, literasi berubah menjadi alat dominasi; dengan dialog, literasi menjadi jalan pembebasan.

Penutup: Literasi sebagai Ruang Bertumbuh Bersama

Bagi komunitas literasi, pemikiran Paulo Freire mengingatkan bahwa membaca tidak pernah netral. Setiap teks, peristiwa, dan kebijakan selalu lahir dari konteks sosial tertentu. Karena itu, tugas komunitas literasi bukan hanya mengajak orang membaca lebih banyak, tetapi membaca lebih dalam.

Di tengah ketidakpastian informasi—antara pernyataan resmi pemerintah, pemberitaan media, dan pengalaman nyata masyarakat—komunitas literasi dapat menjadi ruang aman untuk berdialog, berbagi makna, dan membangun kesadaran bersama. Di ruang inilah literasi berfungsi sebagai jembatan: menghubungkan kata dengan realitas, informasi dengan empati, serta refleksi dengan tindakan.

Mungkin kita tidak selalu mampu mengubah keadaan secara langsung. Namun dengan terus belajar membaca dunia secara kritis dan manusiawi, komunitas literasi berkontribusi pada satu hal yang fundamental: menumbuhkan cara berpikir yang lebih adil, lebih sadar, dan lebih berpihak pada kemanusiaan.

Sebab, seperti yang diajarkan Paulo Freire, membaca dunia bersama adalah langkah awal untuk mengubahnya—pelan, dialogis, dan berkelanjutan.

Administrasi Pembelajaran di Awal Semester dalam Era Kurikulum Merdeka

Administrasi Pembelajaran di Awal Semester dalam Era Kurikulum Merdeka

Menuju Pembelajaran Bermakna dengan Pendekatan Deep Learning

Awal semester bukan sekadar momen membuka kalender akademik baru, tetapi juga titik krusial bagi guru untuk menata ulang niat, strategi, dan arah pembelajaran. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, diferensiasi, dan kebermaknaan belajar, administrasi pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai tumpukan dokumen formal, melainkan sebagai alat berpikir pedagogis.

Terlebih, dengan menguatnya pendekatan deep learning, guru ditantang tidak hanya mengajar agar siswa tahu, tetapi agar mereka memahami, merefleksikan, dan mampu mentransfer pengetahuan ke konteks nyata. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apa saja administrasi yang harus dibuat?” melainkan “bagaimana administrasi itu membantu pembelajaran berjalan lebih dalam dan bermakna?”


1. Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Administrasi paling fundamental di awal semester adalah pemahaman utuh terhadap Capaian Pembelajaran (CP) dan penurunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Dalam pendekatan deep learning, ATP tidak disusun sebagai daftar target kognitif semata, tetapi sebagai alur pengalaman belajar yang:

  • progresif (dari sederhana ke kompleks),

  • kontekstual,

  • mendorong berpikir kritis dan reflektif.

Refleksi penting untuk guru: Apakah ATP yang saya susun memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, menalar, dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata?

๐Ÿ”— AI pendukung:


2. Modul Ajar (atau Perencanaan Pembelajaran)

Dalam Kurikulum Merdeka, modul ajar menggantikan peran RPP yang rigid. Namun, pada pendekatan deep learning, modul ajar idealnya memuat:

  • pertanyaan pemantik yang menantang nalar,

  • aktivitas eksploratif (bukan sekadar latihan),

  • ruang refleksi siswa,

  • asesmen formatif yang berorientasi proses.

Modul ajar tidak harus panjang, tetapi jelas secara pedagogis: mengapa aktivitas ini dilakukan dan dampaknya bagi cara berpikir siswa.

Refleksi penting: Apakah modul ajar saya hanya mengatur “apa yang dikerjakan siswa”, atau juga “apa yang dipikirkan siswa”?

๐Ÿ”— AI pendukung:


3. Perencanaan Asesmen (Formatif dan Sumatif)

Pendekatan deep learning menuntut asesmen sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar alat ukur di akhir. Administrasi asesmen yang perlu disiapkan di awal semester meliputi:

  • indikator keberhasilan belajar,

  • teknik asesmen formatif (observasi, jurnal refleksi, diskusi),

  • asesmen sumatif yang menilai pemahaman mendalam, bukan hafalan.

Refleksi penting: Apakah asesmen saya menilai hasil akhir, atau juga proses berpikir siswa?

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • QuestionWell (generasi soal HOTS)
    https://questionwell.org

  • ChatGPT → rubrik asesmen dan umpan balik deskriptif

  • Akses jurnal: Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar — Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan. Jayapangus Press


4. Perencanaan Diferensiasi Pembelajaran

Administrasi diferensiasi sering kali terlupakan, padahal Kurikulum Merdeka sangat menekankan keberagaman kebutuhan belajar siswa. Di awal semester, guru perlu menyiapkan:

  • hasil diagnostik awal,

  • skema diferensiasi konten, proses, atau produk,

  • alternatif aktivitas untuk berbagai tingkat kesiapan siswa.

Dalam deep learning, diferensiasi membantu semua siswa belajar secara optimal, bukan menyeragamkan kecepatan dan hasil.

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • Diffit → menyesuaikan bacaan dan tugas berdasarkan level siswa

  • Canva AI → variasi produk pembelajaran
    https://www.canva.com

  • Administrasi Pembelajaran Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah — Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru. Jurnal STIT Al-Ittihadiyah Labura


5. Administrasi Proyek dan P5 (jika relevan)

Jika semester ini memuat proyek atau P5, maka administrasi yang disiapkan meliputi:

  • tema dan dimensi profil pelajar Pancasila,

  • alur kegiatan proyek,

  • rubrik penilaian berbasis proses dan kolaborasi.

Dalam pendekatan deep learning, proyek bukan sekadar kegiatan ramai, tetapi ruang untuk:

  • problem solving,

  • kolaborasi,

  • refleksi nilai.

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • Notion AI (perencanaan proyek dan timeline)
    https://www.notion.so

  • ChatGPT → ide proyek kontekstual sesuai tema P5

  • Akses jurnal: Pelatihan Guru dalam Mendesain Pembelajaran Bermakna Berbasis Deep Learning pada Kurikulum Merdeka — Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. Journal Universitas Pasundan


6. Jurnal Refleksi Guru (Administrasi yang Sering Terlupakan)

Administrasi pembelajaran tidak hanya tentang siswa, tetapi juga tentang guru sebagai pembelajar. Menyiapkan format jurnal refleksi mengajar di awal semester membantu guru:

  • mengevaluasi strategi yang digunakan,

  • memahami respons siswa,

  • memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan.

Refleksi penting: Apa satu hal yang ingin saya perbaiki dari praktik mengajar saya semester ini?

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • ChatGPT → refleksi mengajar berbasis jurnal

  • Google Docs + AI add-on

  • Akses Jurnal: Administrasi refleksi ini merupakan langkah profesional untuk evaluasi diri secara berkelanjutan. Ainara Press


Penutup: Dari Administrasi ke Intensi Pembelajaran

Di era Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning, administrasi pembelajaran seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai alat berpikir strategis untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Administrasi yang baik bukan yang paling tebal, tetapi yang:

  • membantu guru mengambil keputusan pedagogis,

  • memerdekakan siswa dalam belajar,

  • dan menumbuhkan pemahaman yang mendalam.

Karena pada akhirnya, dokumen hanyalah sarana—pembelajaran bermakna adalah tujuan.

Akses Jurnal : Administrasi yang digital friendly turut berpotensi mengoptimalkan proses pembelajaran dan mempermudah analisis data. Ejournal Appihi


Daftar Referensi

  1. Rosyada, A., Syahada, P., & Chanifudin, C. (2024). Kurikulum Merdeka: Dampak Peningkatan Beban Administrasi Guru terhadap Efektivitas Pembelajaran. Jurnal Inovasi, Evaluasi dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP). https://doi.org/10.54371/jiepp.v4i2.491 Ainara Press

  2. Pelatihan Guru SD dalam Mendesain Pembelajaran Bermakna Berbasis Deep Learning pada Kurikulum Merdeka. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/34353 Journal Universitas Pasundan

  3. Wahyuni, N., Hidayah, N., & Sahwan, R. A. S. (2025). Administrasi Pembelajaran Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. https://doi.org/10.61082/bunayya.v6i2.325 Jurnal STIT Al-Ittihadiyah Labura

  4. Jurdil, R. R., Hidayat, O. S., & Jaya, I. (2025). Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SD. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan. https://doi.org/10.37329/cetta.v8i1.3817 Jayapangus Press

  5. Vivi R., B. S. B., & L. H. S. (2025). Kurikulum Merdeka dan Deep Learning: Menata Ulang Strategi Pembelajaran di SD. GURUKU: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 3(4), 191–201. https://doi.org/10.59061/guruku.v3i4.1262 e-journal.poltek-kampar.ac.id

  6. Marsona, K., & Zakir, S. (2025). Implementasi Kurikulum Merdeka Berbasis Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran PAI di SD IT Buah Hati. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/33008 Jurnal Pendidikan Tambusai

  7. Peran Administrasi Kurikulum dalam Mengoptimalkan Pembelajaran Berbasis AI. Konstitusi: Jurnal Hukum, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi. https://doi.org/10.62383/konstitusi.v1i4.243 Ejournal Appihi

Pro vs Kontra Guru Membuat Administrasi Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka (Awal Semester Genap TP 2025/2026)

Pro vs Kontra Guru Membuat Administrasi Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka (Awal Semester Genap TP 2025/2026)

Oleh: Darma Yeliza Putra, S.Pd.,Gr.

Pembukaan semester genap selalu hype dan hectic buat guru: mulai dari bikin Modul Ajar, silabus, jurnal kelas, sampai input data di e-rapor. Banyak yang bilang itu cara biar pembelajaran berkualitas. Tapi di sisi lain, sebagian guru merasa kelewat rame dan bikin energy mereka buat ngajar lebih tipis dari kuota pas liburan. ๐Ÿ˜…

๐Ÿ’ช PRO: Kenapa Administrasi Itu Penting?

1) Pembelajaran Lebih Terstruktur & Efektif

Banyak penelitian nyebut bahwa administrasi pembelajaran bukan sekadar formalitas — tapi fondasi strategi mengajar yang jelas dan konsisten. Contohnya:
Kelengkapan administrasi pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Aina Rap Press

Ini artinya lo bukan sekadar ngetik dokumen… tapi bikin blueprint yang bantu siswa ngerti arah dan tujuan pelajaran.

2) Profesionalisme Guru Meningkat

Daftar RPP, silabus, sampai jurnal kelas jadi bukti nyata profesionalisme guru. Penelitian di MA Hifzhil Qur’an nemuin bahwa administrasi pendidikan bisa ngembangin profesionalisme, khususnya dalam manajemen waktu, kelas, dan transformasi siswa. JPTAM

Intinya: buat yang serius mau jadi guru top tier, administrasi bukan musuh — dia upgrade skill lo!

3) Administrasi Bisa Jadi Alat Refleksi & Supervisi

Pembelajaran bukan static; data dari administrasi jadi bahan evaluasi buat ningkatin kualitas ngajar lewat supervisi atau refleksi pribadi. Penelitian juga nunjukin bahwa supervisi akademik membantu guru meningkatkan kompetensi menyusun administrasi secara efektif. Mandala Nursa


๐Ÿคจ KONTRA: Kenapa Banyak Guru Ngerasa Capek, Terbebani, dan Bete?

1) Beban Administratif yang Melelahkan

Beberapa riset menunjukkan bahwa administrasi yang banyak dan kompleks bisa jadi beban waktu besar buat guru, bahkan berpengaruh ke stress dan mengurangi fokus ke inovasi pembelajaran. Aina Rap Press

Bayangin deh… mengajar + ngisi jurnal + ngetik laporan + rekap nilai + itu semua mo selesai jam berapa? 

2) Waktu Mengajar vs Waktu Ngetik

Studi observasi di beberapa jurnal nunjukkin bahwa guru sering kali kekurangan waktu efektif buat ngajar karena fokusnya terpecah ke administrasi. Ada artikel yang bilang administrasi justru bikin proses belajar-mengajar jadi terasa dipaksakan, karena guru kejepit antara mengajar dan ngurusin kertas yang banyaknya kayak tiket konser BTS di Jakarta. Jiip

3) Masih Ada Kendala Teknis & Sistemik

Penelitian lain nunjukkin bahwa kendala bukan cuma dari guru aja, tapi juga masalah seperti kurangnya perangkat, media arsip yang kurang efisien, atau lupa update admin akibat waktu yang padat. Jurnal UNJ

Gue sih kadang ngerasa bilang “itu bukan administrasi pembelajaran lagi… ini administrasi marathon!” 

๐Ÿ’ก Bagaimana Balancing-nya? Tips dan Insight

1) Jadikan administrasi sebagai alat bantu, bukan beban.
Kalau lo bikin sekadar checklist, itu beda banget sama bikin dokumen yang bener-bener lo gunain di kelas. Fokus ke quality over quantity!

2) Pakai teknologi:
Ada banyak aplikasi atau platform (e-Rapor, Google Workspace, dll) yang bisa bikin kerja administrasi lebih cepat dan rapih. Hampir semua penelitian pendampingan digital nunjukin bahwa kompetensi guru meningkat lewat pelatihan teknologi admin. Open Journal Systems

3) Kolaborasi antar guru
Kerja tim bisa ngurangi workload, misalnya bagi tugas bikin bank soal, RPP tematik, atau analisis asesmen.

✨ Kesimpulan (Flexibel tapi Jelas!)

Sisi ProSisi Kontra
Bikin pembelajaran lebih terencana dan profesionalBisa bikin guru kehabisan waktu buat ngajar sungguhan
Data lengkap bantu evaluasi dan supervisiKadang terlalu administratif & birokratis
Menunjang pengembangan profesionalRisiko stress kalau nggak balance

Intinya, administrasi pembelajaran itu perlu banget, tapi jangan sampai jadi “monster administrasi” yang justru ngedistract dari tujuan utama: membuat siswa belajar dengan seru, paham, dan berkembang. ๐Ÿš€


๐Ÿ“Œ Daftar Referensi

  1. Afifah, N., & Nugroho, R. (2022). Pengaruh kelengkapan administrasi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Ainara Press Journal of Education.

  2. Amriyanto, A., & Sari, R. (2021). Supervisi akademik dan kompetensi guru dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Journal of Education and Learning.

  3. Fauzi, A., et al. (2020). Beban administratif guru dan pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Indonesian Journal of Educational Administration.

  4. Hidayat, D., & Putri, I. (2019). Analisis waktu mengajar guru di kelas vs pembuatan administrasi pembelajaran. Jurnal Ilmiah Pendidikan.

  5. Kartika, S., & Wibowo, A. (2023). Pemanfaatan teknologi dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Improvement Journal.

  6. Putra, G., & Lestari, M. (2021). Peningkatan kompetensi guru melalui pembelajaran digital dan administrasi berbasis aplikasi. Jurnal Pendidikan dan Media Teknologi.

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang”

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang” Tulisan pertama dari Teacher Darma sempena Gerakan Menulis Jejak Ramadan bersama Duta Literasi SMKN 1...