Sabtu, 21 Februari 2026

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang”

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang”
Tulisan pertama dari Teacher Darma sempena Gerakan Menulis Jejak Ramadan bersama Duta Literasi SMKN 1 Rupat 2026

Pagi itu, setelah sahur, saya duduk lebih lama dari biasanya. Bukan karena masih mengantuk, tetapi karena ada satu pertanyaan yang terus berputar di kepala: Jika Ramadan ini adalah kesempatan terakhir, apa yang ingin saya perbaiki?

Ramadan selalu datang dengan janji yang sama—janji tentang ampunan, tentang keberkahan, tentang kesempatan untuk menjadi lebih baik. Namun setiap tahun, saya sadar, harapan saja tidak cukup. Harapan harus diikat dengan kebiasaan. Dan kebiasaan harus dilatih dengan kesungguhan.

Ramadan kali ini, saya menaruh harapan besar. Bukan hanya untuk diri saya, tetapi juga untuk keluarga dan lingkungan tempat saya bertumbuh. Saya ingin lebih sabar, lebih tertata, lebih bermanfaat. Saya ingin keberkahan itu terasa nyata—bukan sekadar doa yang diucapkan, tetapi sesuatu yang benar-benar saya perjuangkan.

Maka setelah sahur, saya membuka jurnal kecil saya. Di situlah hari saya dimulai. Saya menuliskan rencana harian—apa yang ingin diselesaikan, apa yang ingin dipelajari, bagaimana saya ingin bersikap hari itu. Menulis setelah sahur terasa berbeda. Pikiran masih jernih, hati masih lembut. Seolah-olah setiap kata yang ditulis menjadi janji kecil kepada diri sendiri.

Saya belajar bahwa mengelola diri bukan soal menjadi sempurna. Ia tentang konsistensi. Tentang tetap bangun meski malas, tetap membaca meski lelah, tetap menulis meski tidak ada yang menyuruh. Ramadan justru menjadi ruang latihan terbaik untuk itu. Ketika lapar dan haus menahan ego, di situlah disiplin diuji.

Sebagai seorang guru dan pegiat literasi, saya tetap menjalankan amanah seperti biasa. Datang ke sekolah, berdiskusi dengan siswa, merancang kegiatan literasi bersama komunitas. Ramadan bukan alasan untuk berhenti belajar. Justru sebaliknya—ia menjadi pengingat bahwa belajar adalah bagian dari ibadah. Ilmu bukan beban, melainkan cahaya. Dan cahaya itu harus terus dicari.

Saya selalu percaya, esensi belajar bukan karena terpaksa, melainkan karena dibiasakan. Kebiasaan itulah yang perlahan membentuk karakter. Seperti puasa yang setiap hari kita jalani, menahan diri pun akhirnya terasa lebih ringan karena dilakukan berulang.

Namun Ramadan kali ini, ada satu hal yang membuat saya merenung lebih dalam.

Suatu malam, saya mendengarkan sebuah podcast dari Felix Siauw bersama beberapa rekannya. Mereka membahas tentang tanda-tanda hari kiamat yang semakin jelas. Awalnya saya hanya ingin menambah wawasan. Tapi semakin saya mendengar, semakin saya terdiam.

Bukan karena takut. Tetapi karena tersadar.

Bagaimana jika waktu itu benar-benar semakin dekat? Bagaimana jika kesempatan memperbaiki diri tidak sebanyak yang kita kira? Bagaimana jika “nanti” ternyata tidak pernah datang?

Malam itu saya menutup hari dengan perasaan yang berbeda. Jurnal yang saya tulis setelah sahur terasa lebih bermakna. Rencana-rencana kecil yang saya susun tidak lagi sekadar target produktivitas, tetapi menjadi ikhtiar mempersiapkan diri. Saya sadar, belajar agama bukan sekadar menambah pengetahuan, melainkan menguatkan arah.

Ramadan mengajarkan saya satu hal penting: yang perlu kita takutkan bukanlah kiamat yang belum tentu kita temui, tetapi waktu yang kita sia-siakan hari ini.

Dan di situlah plot twist dari hari pertama Ramadan saya.

Saya pikir saya sedang menunggu keberkahan turun dari langit. Ternyata, keberkahan itu sedang menunggu saya bergerak.

Ia hadir saat saya menulis jurnal dengan sungguh-sungguh.
Ia tumbuh saat saya tetap belajar meski lelah.
Ia terasa saat saya menjalankan amanah dengan ikhlas.

Ramadan bukan tentang menunggu menjadi lebih baik secara ajaib. Ramadan adalah tentang melatih diri agar siap, seandainya waktu itu benar-benar datang lebih cepat dari yang kita bayangkan.

Hari pertama ini bukan tentang cerita besar. Ia hanya tentang keputusan kecil yang diulang dengan konsisten. Dan mungkin, di situlah perubahan dimulai.

Karena bisa jadi, yang semakin dekat bukan hanya hari kiamat, tetapi juga kesempatan kita untuk menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Tidak ada komentar:

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang”

“Sebelum Waktu Itu Benar-Benar Datang” Tulisan pertama dari Teacher Darma sempena Gerakan Menulis Jejak Ramadan bersama Duta Literasi SMKN 1...