Kamis, 08 Januari 2026

 

Menyambut Semester Genap: Bukan Sekadar Ganti Kalender, Tapi Tentang Memperbarui Semangat Belajar

Tahun ajaran baru di semester genap seringkali datang dengan suasana yang berbeda. Setelah jeda libur yang cukup panjang, ada tantangan besar bagi kita sebagai pendidik: Bagaimana menyalakan kembali api semangat di ruang kelas?

Baru-baru ini (07 Januari 2026), saya menyimak sebuah webinar inspiratif dari kanal YouTube SMA PGRI LARANGAN. Video tersebut bukan sekadar tutorial administrasi, melainkan sebuah pengingat bahwa persiapan yang matang adalah separuh dari keberhasilan. Berikut adalah refleksi dan ulasan mendalam yang saya rangkum untuk kita semua.

Berikut link Video Webinarnya : Link Materi Webinarnya
Berikut link Materi dari narasumbernya : Link Materi Presentasinya


Refleksi: Belajar dari Jejak di Semester Ganjil

Langkah pertama yang dibahas dalam pelatihan tersebut adalah Evaluasi dan Refleksi. Seringkali kita terlalu terburu-buru mengejar materi baru hingga lupa menengok ke belakang. Apakah metode kemarin sudah menyentuh hati siswa? Di mana letak kegagalan komunikasi kita?

Refleksi ini bukan untuk mencari kesalahan, melainkan untuk menemukan "ruang tumbuh". Seperti yang disampaikan narasumber, semester genap adalah kesempatan kedua untuk memperbaiki apa yang belum tuntas di semester sebelumnya.

8 Pilar Kesiapan: Bekal Guru untuk Melangkah

Untuk memastikan langkah kita di semester genap lebih bermakna, ada delapan instrumen kunci yang perlu kita siapkan dengan hati:

  • Evaluasi dan Refleksi Semester Ganjil Guru diminta meninjau kembali apa yang sudah berjalan baik dan tantangan apa yang dihadapi selama semester sebelumnya. Refleksi ini menjadi landasan untuk memperbaiki kualitas interaksi dan hasil belajar siswa di semester genap.

  • Menyiapkan Sasaran Kinerja Pegawai (SKP) Penyusunan SKP sangat penting untuk menetapkan target kerja satu semester ke depan. Ini mencakup perencanaan tugas utama pengajaran, evaluasi, hingga tugas tambahan atau pengembangan profesi.

  • Meninjau Program Tahunan (Prota) Melihat kembali Prota untuk memastikan alokasi waktu dan standar kompetensi yang harus dicapai hingga akhir tahun ajaran masih sesuai dengan target awal.

  • Menyusun Program Semester (Promes) Genap Menjabarkan rencana pembelajaran mingguan secara detail selama semester genap, termasuk penentuan jadwal ujian tengah semester, ujian akhir, dan kegiatan sekolah lainnya.

  • Menyusun Modul Ajar (RPP) Menyiapkan rencana pelaksanaan pembelajaran yang lebih inovatif. Di era Kurikulum Merdeka, guru didorong untuk menyusun Modul Ajar yang mendukung pembelajaran berdiferensiasi agar sesuai dengan kebutuhan unik setiap siswa.

  • Merencanakan Penilaian (Asesmen) Siswa Menentukan metode penilaian yang akan digunakan, baik formatif (selama proses) maupun sumatif (akhir materi). Guru perlu menyiapkan instrumen penilaian yang objektif dan terukur sejak awal.

  • Menyiapkan Bahan Ajar dan Sumber Belajar Selain buku teks, guru sebaiknya menyiapkan materi pendukung seperti artikel, video, atau bahan ajar digital lainnya yang relevan agar penyampaian materi tidak monoton.

  • Merancang Media Pembelajaran yang Menarik Memilih media yang interaktif (seperti alat peraga atau aplikasi edukasi) untuk membangkitkan kembali semangat belajar siswa yang biasanya menurun setelah liburan panjang.

Pesan Inspiratif: Mengajar dengan Hati, Menyiapkan dengan Logika

Satu hal yang saya petik dari pelatihan ini adalah bahwa profesionalisme guru dimulai dari persiapan. Saat kita masuk ke kelas dengan persiapan yang matang, kita sebenarnya sedang mengirimkan pesan kepada siswa bahwa "Kalian sangat berharga, sehingga saya menyiapkan yang terbaik untuk pertemuan kita hari ini."

Semester genap adalah garis finish bagi tahun ajaran ini. Mari kita awali bukan dengan beban, tapi dengan kesiapan yang penuh inspirasi.


Tips Singkat untuk Rekan Guru:

Jangan mencoba menyelesaikan kedelapan hal tersebut dalam satu malam. Mulailah dari satu poin setiap harinya, dan rasakan bagaimana kepercayaan diri Anda meningkat saat melangkah masuk ke gerbang sekolah di hari pertama nanti.

Mari berdiskusi! Dari 8 poin di atas, mana yang menurut rekan-rekan paling menantang untuk dipersiapkan? Tulis di kolom komentar, ya!

Minggu, 04 Januari 2026

 

Literasi di Tengah Ketidakpastian: Membaca Dunia Bersama Paulo Freire

oleh : Darma Yeliza Putra, S.Pd.,Gr.

Membaca Realitas Bersama Komunitas Literasi

Bagi komunitas literasi, awal tahun bukan hanya soal pergantian kalender, tetapi juga momen refleksi bersama. Bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia, pernyataan pemerintah yang berlapis, serta derasnya arus informasi di media dan media sosial menghadirkan situasi yang membingungkan: informasi tersedia di mana-mana, tetapi pemahaman tidak selalu tumbuh seiring dengannya.

Dalam kondisi seperti ini, literasi menemukan maknanya yang paling esensial. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku atau membagikan kutipan, melainkan proses bersama untuk memahami realitas, mendengar pengalaman sesama, dan menumbuhkan kesadaran kritis. Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi sangat relevan bagi gerakan dan komunitas literasi.

Paulo Freire dan Gagasan Literasi sebagai Kesadaran Kritis

Dalam karyanya yang berpengaruh, Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menolak pemahaman literasi yang sempit. Bagi Freire, literasi adalah proses pembebasan—sebuah jalan menuju kesadaran kritis (critical consciousness). Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup di dunia, tetapi hidup bersama dunia dan memiliki kemampuan untuk merefleksikannya.

Freire membedakan antara membaca kata (reading the word) dan membaca dunia (reading the world). Membaca kata adalah kemampuan teknis; membaca dunia adalah kemampuan memahami realitas sosial, politik, dan kultural yang melingkupi kata-kata tersebut. Tanpa kemampuan membaca dunia, seseorang dapat saja melek huruf, tetapi tetap tidak berdaya secara kritis.

Ketidakpastian Informasi: Pemerintah, Media, dan Publik

Dalam konteks kebencanaan dan kebijakan publik, ketidakpastian sering muncul bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena informasi yang tidak utuh, tidak dialogis, atau tidak berpijak pada pengalaman masyarakat. Pernyataan resmi pemerintah kadang terasa normatif dan prosedural, sementara realitas di lapangan menunjukkan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dan mendesak.

Freire menyebut pola komunikasi satu arah ini sebagai banking model of education, sebuah model di mana pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang ditransfer secara sepihak dari yang dianggap tahu kepada yang dianggap tidak tahu. Dalam praktik kebijakan, pola ini terlihat ketika negara berbicara, sementara masyarakat hanya diminta mendengar.

Akibatnya, muncul jarak antara pesan pemerintah dan pemaknaan masyarakat. Ketika masyarakat berharap empati, kehadiran, dan kejelasan, yang mereka terima sering kali adalah data, angka, atau imbauan administratif. Ketidakselarasan inilah yang memicu kekecewaan dan menurunnya kepercayaan publik.

Literasi sebagai Jembatan antara Informasi dan Keputusan

Freire menegaskan bahwa literasi sejati selalu berujung pada praxis refleksi yang diikuti oleh tindakan sadar. Dalam situasi krisis, literasi berperan sebagai jembatan antara informasi dan keputusan. Ia membantu individu dan institusi untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi merespons secara reflektif.

Bagi masyarakat, literasi kritis memungkinkan warga:
- memilah informasi yang faktual dan manipulatif,

- memahami kepentingan di balik narasi kebijakan,
- serta menyuarakan aspirasi secara sadar dan bermakna.

Bagi pemerintah, literasi dalam makna Freirean, menuntut kemampuan mendengar, berdialog, dan membaca realitas sosial sebelum menetapkan kebijakan. Tanpa itu, kebijakan berisiko menjadi tepat secara administratif, tetapi keliru secara kemanusiaan.

Membaca Bencana sebagai Teks Sosial

Freire mengajarkan bahwa realitas sosial dapat dibaca layaknya teks. Bencana alam, dalam perspektif ini, bukan hanya peristiwa alamiah, tetapi juga teks sosial yang memuat pesan tentang relasi manusia dengan lingkungan, tata kelola negara, dan keberpihakan kebijakan.

Ketika respons terhadap bencana lebih menekankan citra, simbol, atau stabilitas narasi politik, sementara kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi, kita sedang menyaksikan kegagalan membaca teks sosial tersebut. Literasi kritis mengajak kita bertanya: siapa yang diuntungkan dari narasi tertentu, dan siapa yang terpinggirkan?

Relevansi Pemikiran Freire di Era Informasi Berlebih

Di era digital, tantangan literasi tidak lagi terbatas pada akses terhadap informasi, tetapi pada kemampuan menafsirkan dan memaknainya. Informasi pemerintah, pemberitaan media, dan opini warganet bercampur tanpa batas yang jelas. Dalam situasi ini, gagasan Freire tentang dialog menjadi semakin penting.

Dialog, bagi Freire, bukan sekadar percakapan, melainkan relasi yang setara antara subjek yang sama-sama belajar. Tanpa dialog, literasi berubah menjadi alat dominasi; dengan dialog, literasi menjadi jalan pembebasan.

Penutup: Literasi sebagai Ruang Bertumbuh Bersama

Bagi komunitas literasi, pemikiran Paulo Freire mengingatkan bahwa membaca tidak pernah netral. Setiap teks, peristiwa, dan kebijakan selalu lahir dari konteks sosial tertentu. Karena itu, tugas komunitas literasi bukan hanya mengajak orang membaca lebih banyak, tetapi membaca lebih dalam.

Di tengah ketidakpastian informasi—antara pernyataan resmi pemerintah, pemberitaan media, dan pengalaman nyata masyarakat—komunitas literasi dapat menjadi ruang aman untuk berdialog, berbagi makna, dan membangun kesadaran bersama. Di ruang inilah literasi berfungsi sebagai jembatan: menghubungkan kata dengan realitas, informasi dengan empati, serta refleksi dengan tindakan.

Mungkin kita tidak selalu mampu mengubah keadaan secara langsung. Namun dengan terus belajar membaca dunia secara kritis dan manusiawi, komunitas literasi berkontribusi pada satu hal yang fundamental: menumbuhkan cara berpikir yang lebih adil, lebih sadar, dan lebih berpihak pada kemanusiaan.

Sebab, seperti yang diajarkan Paulo Freire, membaca dunia bersama adalah langkah awal untuk mengubahnya—pelan, dialogis, dan berkelanjutan.

Administrasi Pembelajaran di Awal Semester dalam Era Kurikulum Merdeka

Administrasi Pembelajaran di Awal Semester dalam Era Kurikulum Merdeka

Menuju Pembelajaran Bermakna dengan Pendekatan Deep Learning

Awal semester bukan sekadar momen membuka kalender akademik baru, tetapi juga titik krusial bagi guru untuk menata ulang niat, strategi, dan arah pembelajaran. Dalam konteks Kurikulum Merdeka yang menekankan fleksibilitas, diferensiasi, dan kebermaknaan belajar, administrasi pembelajaran tidak lagi dipahami sebagai tumpukan dokumen formal, melainkan sebagai alat berpikir pedagogis.

Terlebih, dengan menguatnya pendekatan deep learning, guru ditantang tidak hanya mengajar agar siswa tahu, tetapi agar mereka memahami, merefleksikan, dan mampu mentransfer pengetahuan ke konteks nyata. Maka, pertanyaannya bukan lagi “apa saja administrasi yang harus dibuat?” melainkan “bagaimana administrasi itu membantu pembelajaran berjalan lebih dalam dan bermakna?”


1. Capaian Pembelajaran (CP) dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP)

Administrasi paling fundamental di awal semester adalah pemahaman utuh terhadap Capaian Pembelajaran (CP) dan penurunan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Dalam pendekatan deep learning, ATP tidak disusun sebagai daftar target kognitif semata, tetapi sebagai alur pengalaman belajar yang:

  • progresif (dari sederhana ke kompleks),

  • kontekstual,

  • mendorong berpikir kritis dan reflektif.

Refleksi penting untuk guru: Apakah ATP yang saya susun memberi ruang bagi siswa untuk bertanya, menalar, dan mengaitkan materi dengan kehidupan nyata?

๐Ÿ”— AI pendukung:


2. Modul Ajar (atau Perencanaan Pembelajaran)

Dalam Kurikulum Merdeka, modul ajar menggantikan peran RPP yang rigid. Namun, pada pendekatan deep learning, modul ajar idealnya memuat:

  • pertanyaan pemantik yang menantang nalar,

  • aktivitas eksploratif (bukan sekadar latihan),

  • ruang refleksi siswa,

  • asesmen formatif yang berorientasi proses.

Modul ajar tidak harus panjang, tetapi jelas secara pedagogis: mengapa aktivitas ini dilakukan dan dampaknya bagi cara berpikir siswa.

Refleksi penting: Apakah modul ajar saya hanya mengatur “apa yang dikerjakan siswa”, atau juga “apa yang dipikirkan siswa”?

๐Ÿ”— AI pendukung:


3. Perencanaan Asesmen (Formatif dan Sumatif)

Pendekatan deep learning menuntut asesmen sebagai bagian dari proses belajar, bukan sekadar alat ukur di akhir. Administrasi asesmen yang perlu disiapkan di awal semester meliputi:

  • indikator keberhasilan belajar,

  • teknik asesmen formatif (observasi, jurnal refleksi, diskusi),

  • asesmen sumatif yang menilai pemahaman mendalam, bukan hafalan.

Refleksi penting: Apakah asesmen saya menilai hasil akhir, atau juga proses berpikir siswa?

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • QuestionWell (generasi soal HOTS)
    https://questionwell.org

  • ChatGPT → rubrik asesmen dan umpan balik deskriptif

  • Akses jurnal: Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar — Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan. Jayapangus Press


4. Perencanaan Diferensiasi Pembelajaran

Administrasi diferensiasi sering kali terlupakan, padahal Kurikulum Merdeka sangat menekankan keberagaman kebutuhan belajar siswa. Di awal semester, guru perlu menyiapkan:

  • hasil diagnostik awal,

  • skema diferensiasi konten, proses, atau produk,

  • alternatif aktivitas untuk berbagai tingkat kesiapan siswa.

Dalam deep learning, diferensiasi membantu semua siswa belajar secara optimal, bukan menyeragamkan kecepatan dan hasil.

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • Diffit → menyesuaikan bacaan dan tugas berdasarkan level siswa

  • Canva AI → variasi produk pembelajaran
    https://www.canva.com

  • Administrasi Pembelajaran Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah — Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru. Jurnal STIT Al-Ittihadiyah Labura


5. Administrasi Proyek dan P5 (jika relevan)

Jika semester ini memuat proyek atau P5, maka administrasi yang disiapkan meliputi:

  • tema dan dimensi profil pelajar Pancasila,

  • alur kegiatan proyek,

  • rubrik penilaian berbasis proses dan kolaborasi.

Dalam pendekatan deep learning, proyek bukan sekadar kegiatan ramai, tetapi ruang untuk:

  • problem solving,

  • kolaborasi,

  • refleksi nilai.

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • Notion AI (perencanaan proyek dan timeline)
    https://www.notion.so

  • ChatGPT → ide proyek kontekstual sesuai tema P5

  • Akses jurnal: Pelatihan Guru dalam Mendesain Pembelajaran Bermakna Berbasis Deep Learning pada Kurikulum Merdeka — Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. Journal Universitas Pasundan


6. Jurnal Refleksi Guru (Administrasi yang Sering Terlupakan)

Administrasi pembelajaran tidak hanya tentang siswa, tetapi juga tentang guru sebagai pembelajar. Menyiapkan format jurnal refleksi mengajar di awal semester membantu guru:

  • mengevaluasi strategi yang digunakan,

  • memahami respons siswa,

  • memperbaiki pembelajaran secara berkelanjutan.

Refleksi penting: Apa satu hal yang ingin saya perbaiki dari praktik mengajar saya semester ini?

๐Ÿ”— AI pendukung:

  • ChatGPT → refleksi mengajar berbasis jurnal

  • Google Docs + AI add-on

  • Akses Jurnal: Administrasi refleksi ini merupakan langkah profesional untuk evaluasi diri secara berkelanjutan. Ainara Press


Penutup: Dari Administrasi ke Intensi Pembelajaran

Di era Kurikulum Merdeka dengan pendekatan deep learning, administrasi pembelajaran seharusnya tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai alat berpikir strategis untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna. Administrasi yang baik bukan yang paling tebal, tetapi yang:

  • membantu guru mengambil keputusan pedagogis,

  • memerdekakan siswa dalam belajar,

  • dan menumbuhkan pemahaman yang mendalam.

Karena pada akhirnya, dokumen hanyalah sarana—pembelajaran bermakna adalah tujuan.

Akses Jurnal : Administrasi yang digital friendly turut berpotensi mengoptimalkan proses pembelajaran dan mempermudah analisis data. Ejournal Appihi


Daftar Referensi

  1. Rosyada, A., Syahada, P., & Chanifudin, C. (2024). Kurikulum Merdeka: Dampak Peningkatan Beban Administrasi Guru terhadap Efektivitas Pembelajaran. Jurnal Inovasi, Evaluasi dan Pengembangan Pembelajaran (JIEPP). https://doi.org/10.54371/jiepp.v4i2.491 Ainara Press

  2. Pelatihan Guru SD dalam Mendesain Pembelajaran Bermakna Berbasis Deep Learning pada Kurikulum Merdeka. Pendas: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar. https://journal.unpas.ac.id/index.php/pendas/article/view/34353 Journal Universitas Pasundan

  3. Wahyuni, N., Hidayah, N., & Sahwan, R. A. S. (2025). Administrasi Pembelajaran Guru dalam Penerapan Kurikulum Merdeka di Madrasah Ibtidaiyah. Bunayya: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah. https://doi.org/10.61082/bunayya.v6i2.325 Jurnal STIT Al-Ittihadiyah Labura

  4. Jurdil, R. R., Hidayat, O. S., & Jaya, I. (2025). Perencanaan Pembelajaran dan Asesmen dalam Implementasi Kurikulum Merdeka di SD. Cetta: Jurnal Ilmu Pendidikan. https://doi.org/10.37329/cetta.v8i1.3817 Jayapangus Press

  5. Vivi R., B. S. B., & L. H. S. (2025). Kurikulum Merdeka dan Deep Learning: Menata Ulang Strategi Pembelajaran di SD. GURUKU: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, 3(4), 191–201. https://doi.org/10.59061/guruku.v3i4.1262 e-journal.poltek-kampar.ac.id

  6. Marsona, K., & Zakir, S. (2025). Implementasi Kurikulum Merdeka Berbasis Pendekatan Deep Learning dalam Pembelajaran PAI di SD IT Buah Hati. Jurnal Pendidikan Tambusai. https://jptam.org/index.php/jptam/article/view/33008 Jurnal Pendidikan Tambusai

  7. Peran Administrasi Kurikulum dalam Mengoptimalkan Pembelajaran Berbasis AI. Konstitusi: Jurnal Hukum, Administrasi Publik, dan Ilmu Komunikasi. https://doi.org/10.62383/konstitusi.v1i4.243 Ejournal Appihi

Pro vs Kontra Guru Membuat Administrasi Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka (Awal Semester Genap TP 2025/2026)

Pro vs Kontra Guru Membuat Administrasi Pembelajaran di Era Kurikulum Merdeka (Awal Semester Genap TP 2025/2026)

Oleh: Darma Yeliza Putra, S.Pd.,Gr.

Pembukaan semester genap selalu hype dan hectic buat guru: mulai dari bikin Modul Ajar, silabus, jurnal kelas, sampai input data di e-rapor. Banyak yang bilang itu cara biar pembelajaran berkualitas. Tapi di sisi lain, sebagian guru merasa kelewat rame dan bikin energy mereka buat ngajar lebih tipis dari kuota pas liburan. ๐Ÿ˜…

๐Ÿ’ช PRO: Kenapa Administrasi Itu Penting?

1) Pembelajaran Lebih Terstruktur & Efektif

Banyak penelitian nyebut bahwa administrasi pembelajaran bukan sekadar formalitas — tapi fondasi strategi mengajar yang jelas dan konsisten. Contohnya:
Kelengkapan administrasi pembelajaran berpengaruh signifikan terhadap hasil belajar siswa. Aina Rap Press

Ini artinya lo bukan sekadar ngetik dokumen… tapi bikin blueprint yang bantu siswa ngerti arah dan tujuan pelajaran.

2) Profesionalisme Guru Meningkat

Daftar RPP, silabus, sampai jurnal kelas jadi bukti nyata profesionalisme guru. Penelitian di MA Hifzhil Qur’an nemuin bahwa administrasi pendidikan bisa ngembangin profesionalisme, khususnya dalam manajemen waktu, kelas, dan transformasi siswa. JPTAM

Intinya: buat yang serius mau jadi guru top tier, administrasi bukan musuh — dia upgrade skill lo!

3) Administrasi Bisa Jadi Alat Refleksi & Supervisi

Pembelajaran bukan static; data dari administrasi jadi bahan evaluasi buat ningkatin kualitas ngajar lewat supervisi atau refleksi pribadi. Penelitian juga nunjukin bahwa supervisi akademik membantu guru meningkatkan kompetensi menyusun administrasi secara efektif. Mandala Nursa


๐Ÿคจ KONTRA: Kenapa Banyak Guru Ngerasa Capek, Terbebani, dan Bete?

1) Beban Administratif yang Melelahkan

Beberapa riset menunjukkan bahwa administrasi yang banyak dan kompleks bisa jadi beban waktu besar buat guru, bahkan berpengaruh ke stress dan mengurangi fokus ke inovasi pembelajaran. Aina Rap Press

Bayangin deh… mengajar + ngisi jurnal + ngetik laporan + rekap nilai + itu semua mo selesai jam berapa? 

2) Waktu Mengajar vs Waktu Ngetik

Studi observasi di beberapa jurnal nunjukkin bahwa guru sering kali kekurangan waktu efektif buat ngajar karena fokusnya terpecah ke administrasi. Ada artikel yang bilang administrasi justru bikin proses belajar-mengajar jadi terasa dipaksakan, karena guru kejepit antara mengajar dan ngurusin kertas yang banyaknya kayak tiket konser BTS di Jakarta. Jiip

3) Masih Ada Kendala Teknis & Sistemik

Penelitian lain nunjukkin bahwa kendala bukan cuma dari guru aja, tapi juga masalah seperti kurangnya perangkat, media arsip yang kurang efisien, atau lupa update admin akibat waktu yang padat. Jurnal UNJ

Gue sih kadang ngerasa bilang “itu bukan administrasi pembelajaran lagi… ini administrasi marathon!” 

๐Ÿ’ก Bagaimana Balancing-nya? Tips dan Insight

1) Jadikan administrasi sebagai alat bantu, bukan beban.
Kalau lo bikin sekadar checklist, itu beda banget sama bikin dokumen yang bener-bener lo gunain di kelas. Fokus ke quality over quantity!

2) Pakai teknologi:
Ada banyak aplikasi atau platform (e-Rapor, Google Workspace, dll) yang bisa bikin kerja administrasi lebih cepat dan rapih. Hampir semua penelitian pendampingan digital nunjukin bahwa kompetensi guru meningkat lewat pelatihan teknologi admin. Open Journal Systems

3) Kolaborasi antar guru
Kerja tim bisa ngurangi workload, misalnya bagi tugas bikin bank soal, RPP tematik, atau analisis asesmen.

✨ Kesimpulan (Flexibel tapi Jelas!)

Sisi ProSisi Kontra
Bikin pembelajaran lebih terencana dan profesionalBisa bikin guru kehabisan waktu buat ngajar sungguhan
Data lengkap bantu evaluasi dan supervisiKadang terlalu administratif & birokratis
Menunjang pengembangan profesionalRisiko stress kalau nggak balance

Intinya, administrasi pembelajaran itu perlu banget, tapi jangan sampai jadi “monster administrasi” yang justru ngedistract dari tujuan utama: membuat siswa belajar dengan seru, paham, dan berkembang. ๐Ÿš€


๐Ÿ“Œ Daftar Referensi

  1. Afifah, N., & Nugroho, R. (2022). Pengaruh kelengkapan administrasi pembelajaran terhadap hasil belajar siswa. Ainara Press Journal of Education.

  2. Amriyanto, A., & Sari, R. (2021). Supervisi akademik dan kompetensi guru dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Journal of Education and Learning.

  3. Fauzi, A., et al. (2020). Beban administratif guru dan pengaruhnya terhadap proses pembelajaran. Indonesian Journal of Educational Administration.

  4. Hidayat, D., & Putri, I. (2019). Analisis waktu mengajar guru di kelas vs pembuatan administrasi pembelajaran. Jurnal Ilmiah Pendidikan.

  5. Kartika, S., & Wibowo, A. (2023). Pemanfaatan teknologi dalam penyusunan administrasi pembelajaran. Improvement Journal.

  6. Putra, G., & Lestari, M. (2021). Peningkatan kompetensi guru melalui pembelajaran digital dan administrasi berbasis aplikasi. Jurnal Pendidikan dan Media Teknologi.

  Menyambut Semester Genap: Bukan Sekadar Ganti Kalender, Tapi Tentang Memperbarui Semangat Belajar Tahun ajaran baru di semester genap seri...