Literasi di Tengah Ketidakpastian: Membaca Dunia Bersama Paulo Freire
Membaca Realitas Bersama Komunitas Literasi
Bagi komunitas literasi, awal tahun bukan hanya soal pergantian kalender, tetapi juga momen refleksi bersama. Bencana alam di sejumlah wilayah Indonesia, pernyataan pemerintah yang berlapis, serta derasnya arus informasi di media dan media sosial menghadirkan situasi yang membingungkan: informasi tersedia di mana-mana, tetapi pemahaman tidak selalu tumbuh seiring dengannya.
Dalam kondisi seperti ini, literasi menemukan maknanya yang paling esensial. Literasi bukan sekadar kegiatan membaca buku atau membagikan kutipan, melainkan proses bersama untuk memahami realitas, mendengar pengalaman sesama, dan menumbuhkan kesadaran kritis. Di titik inilah pemikiran Paulo Freire menjadi sangat relevan bagi gerakan dan komunitas literasi.
Paulo Freire dan Gagasan Literasi sebagai Kesadaran Kritis
Dalam karyanya yang berpengaruh, Pedagogy of the Oppressed, Paulo Freire menolak pemahaman literasi yang sempit. Bagi Freire, literasi adalah proses pembebasan—sebuah jalan menuju kesadaran kritis (critical consciousness). Ia menegaskan bahwa manusia tidak hanya hidup di dunia, tetapi hidup bersama dunia dan memiliki kemampuan untuk merefleksikannya.
Freire membedakan antara membaca kata (reading the word) dan membaca dunia (reading the world). Membaca kata adalah kemampuan teknis; membaca dunia adalah kemampuan memahami realitas sosial, politik, dan kultural yang melingkupi kata-kata tersebut. Tanpa kemampuan membaca dunia, seseorang dapat saja melek huruf, tetapi tetap tidak berdaya secara kritis.
Ketidakpastian Informasi: Pemerintah, Media, dan Publik
Dalam konteks kebencanaan dan kebijakan publik, ketidakpastian sering muncul bukan karena ketiadaan informasi, melainkan karena informasi yang tidak utuh, tidak dialogis, atau tidak berpijak pada pengalaman masyarakat. Pernyataan resmi pemerintah kadang terasa normatif dan prosedural, sementara realitas di lapangan menunjukkan kebutuhan yang jauh lebih kompleks dan mendesak.
Freire menyebut pola komunikasi satu arah ini sebagai banking model of education, sebuah model di mana pengetahuan dianggap sebagai sesuatu yang ditransfer secara sepihak dari yang dianggap tahu kepada yang dianggap tidak tahu. Dalam praktik kebijakan, pola ini terlihat ketika negara berbicara, sementara masyarakat hanya diminta mendengar.
Akibatnya, muncul jarak antara pesan pemerintah dan pemaknaan masyarakat. Ketika masyarakat berharap empati, kehadiran, dan kejelasan, yang mereka terima sering kali adalah data, angka, atau imbauan administratif. Ketidakselarasan inilah yang memicu kekecewaan dan menurunnya kepercayaan publik.
Literasi sebagai Jembatan antara Informasi dan Keputusan
Freire menegaskan bahwa literasi sejati selalu berujung pada praxis refleksi yang diikuti oleh tindakan sadar. Dalam situasi krisis, literasi berperan sebagai jembatan antara informasi dan keputusan. Ia membantu individu dan institusi untuk tidak sekadar bereaksi, tetapi merespons secara reflektif.
Bagi masyarakat, literasi kritis memungkinkan warga:
- memilah informasi yang faktual dan manipulatif,
- serta menyuarakan aspirasi secara sadar dan bermakna.
Bagi pemerintah, literasi dalam makna Freirean, menuntut kemampuan mendengar, berdialog, dan membaca realitas sosial sebelum menetapkan kebijakan. Tanpa itu, kebijakan berisiko menjadi tepat secara administratif, tetapi keliru secara kemanusiaan.
Membaca Bencana sebagai Teks Sosial
Freire mengajarkan bahwa realitas sosial dapat dibaca layaknya teks. Bencana alam, dalam perspektif ini, bukan hanya peristiwa alamiah, tetapi juga teks sosial yang memuat pesan tentang relasi manusia dengan lingkungan, tata kelola negara, dan keberpihakan kebijakan.
Ketika respons terhadap bencana lebih menekankan citra, simbol, atau stabilitas narasi politik, sementara kebutuhan dasar masyarakat belum terpenuhi, kita sedang menyaksikan kegagalan membaca teks sosial tersebut. Literasi kritis mengajak kita bertanya: siapa yang diuntungkan dari narasi tertentu, dan siapa yang terpinggirkan?
Relevansi Pemikiran Freire di Era Informasi Berlebih
Di era digital, tantangan literasi tidak lagi terbatas pada akses terhadap informasi, tetapi pada kemampuan menafsirkan dan memaknainya. Informasi pemerintah, pemberitaan media, dan opini warganet bercampur tanpa batas yang jelas. Dalam situasi ini, gagasan Freire tentang dialog menjadi semakin penting.
Dialog, bagi Freire, bukan sekadar percakapan, melainkan relasi yang setara antara subjek yang sama-sama belajar. Tanpa dialog, literasi berubah menjadi alat dominasi; dengan dialog, literasi menjadi jalan pembebasan.
Penutup: Literasi sebagai Ruang Bertumbuh Bersama
Bagi komunitas literasi, pemikiran Paulo Freire mengingatkan bahwa membaca tidak pernah netral. Setiap teks, peristiwa, dan kebijakan selalu lahir dari konteks sosial tertentu. Karena itu, tugas komunitas literasi bukan hanya mengajak orang membaca lebih banyak, tetapi membaca lebih dalam.
Di tengah ketidakpastian informasi—antara pernyataan resmi pemerintah, pemberitaan media, dan pengalaman nyata masyarakat—komunitas literasi dapat menjadi ruang aman untuk berdialog, berbagi makna, dan membangun kesadaran bersama. Di ruang inilah literasi berfungsi sebagai jembatan: menghubungkan kata dengan realitas, informasi dengan empati, serta refleksi dengan tindakan.
Mungkin kita tidak selalu mampu mengubah keadaan secara langsung. Namun dengan terus belajar membaca dunia secara kritis dan manusiawi, komunitas literasi berkontribusi pada satu hal yang fundamental: menumbuhkan cara berpikir yang lebih adil, lebih sadar, dan lebih berpihak pada kemanusiaan.
Sebab, seperti yang diajarkan Paulo Freire, membaca dunia bersama adalah langkah awal untuk mengubahnya—pelan, dialogis, dan berkelanjutan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar