Ketika Guru Belajar Berbicara: Public Speaking sebagai Kunci Menghidupkan Pembelajaran
Rabu, 14 Januari 2026, menjadi salah satu hari belajar yang bermakna bagi saya dan para guru di SMKN 1 Rupat. Bukan belajar tentang kurikulum, bukan pula tentang administrasi pembelajaran, melainkan tentang cara menyampaikan diri, gagasan, dan pengetahuan secara hidup dan bermakna. Bersama Pak Wewendra Al Rasyid, S.Sos., M.M. dari Oxal Academy Pekanbaru, kami mengikuti pelatihan bertema “Public Speaking: Berbicara Asik, Menarik, dan Karismatik di Depan Publik.”
Pelatihan hari pertama ini membuka ruang refleksi yang dalam: betapa pentingnya kemampuan public speaking bagi seorang guru. Mengajar sejatinya bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi mengajak, mempengaruhi, dan menumbuhkan keinginan belajar dalam diri siswa. Hal ini selaras dengan salah satu dari empat kompetensi guru, yakni kompetensi pedagogik, di mana guru dituntut mampu menyampaikan informasi secara efektif, komunikatif, dan bermakna bagi peserta didik.
Public Speaking: Bukan Sekadar Berbicara, tetapi How to Deliver
Dalam sesi pelatihan, Pak Wewen menegaskan bahwa public speaking bukan tentang siapa yang paling lantang berbicara, melainkan tentang “how to deliver”—bagaimana sebuah pesan disampaikan dan dipahami oleh lawan bicara. Ukuran keberhasilan public speaking, menurut beliau, bukan pada panjangnya penjelasan, tetapi pada kesimpulan yang mampu ditangkap oleh pendengar. Semakin tepat pemahaman yang diterima audiens, semakin baik kualitas public speaking kita.
Bagi guru, ini menjadi pengingat penting:
Mengajar bukan soal seberapa banyak kita bicara, tetapi seberapa jauh siswa memahami apa yang kita sampaikan.
Mensyukuri Suara, Mengolahnya Menjadi Kekuatan
Salah satu bagian paling reflektif dari pelatihan ini adalah ketika kami diajak untuk mensyukuri karunia Tuhan berupa suara yang dimiliki masing-masing. Setiap guru memiliki karakter suara yang berbeda, dan di sanalah letak kekuatannya. Suara bukan sekadar alat berbicara, melainkan senjata utama guru untuk mendeliver pengetahuan, emosi, dan makna kepada siswa.
Public speaking bagi guru ibarat kunci pendekatan. Dengan suara yang terkelola baik, guru dapat menciptakan suasana kelas yang nyaman, membuat siswa merasa diajak, bukan dipaksa belajar. Pembelajaran pun tidak terasa membosankan, tetapi menjadi pengalaman yang menyenangkan dan bermakna.
Tantangan dalam Public Speaking yang Perlu Disadari Guru
Dalam prosesnya, Pak Wewen juga menekankan beberapa tantangan utama yang kerap dihadapi ketika guru belajar dan mempraktikkan public speaking, antara lain:
-
Mengelola rasa gugup, terutama saat berbicara di depan banyak orang atau di situasi formal.
-
Cara mendeliver informasi, apakah disampaikan secara hidup atau sekadar membaca teks.
-
Memaksimalkan suara, agar jelas, tegas, dan nyaman didengar.
Beliau mengingatkan bahwa saat berbicara di depan publik—termasuk di kelas—guru sejatinya sedang mempresentasikan diri. Presentasi ini mencakup dua hal besar: verbal dan non-verbal.
-
Verbal, yakni isi informasi yang disampaikan. Apakah materi dibungkus dengan cerita, contoh, dan emosi, atau hanya sebatas teks buku.
-
Non-verbal, yang sering kali luput disadari: penampilan, bahasa tubuh, ekspresi wajah, media pendukung seperti PPT, hingga hal sederhana seperti kerapian dan wangi badan.
Semua itu, sadar atau tidak, mempengaruhi cara siswa menerima pesan dari gurunya.
Teknik Suara: Nafas, Dinamika, dan Jeda
Dalam sesi praktik, kami juga diperkenalkan pada teknik vokal dengan memanfaatkan pernapasan dada dan tenggorokan. Teknik ini perlu dilatih dan dibiasakan agar suara terdengar lebih stabil, jelas, dan tidak cepat melelahkan. Selain itu, public speaking yang baik juga membutuhkan permainan dinamika suara, tempo, jeda, dan intonasi. Tanpa itu, suara guru mudah terdengar datar dan monoton.
Kami diminta membacakan sebuah kalimat reflektif:
“Bukan karena hari ini indah saya bahagia,tapi karena saya bahagia, hari-hari terasa indah.Bukan karena ini mudah saya menjadi bisa,tapi karena saya bisa, maka semua menjadi mudah.”
Kalimat sederhana itu terasa berbeda ketika dibaca dengan pengelolaan suara yang tepat. Dari situ kami belajar bahwa cara berbicara dapat mengubah makna dan rasa sebuah pesan.
Refleksi: Mengajar adalah Seni Berbicara dengan Hati
Dari pelatihan ini, saya pribadi banyak berefleksi. Kemampuan public speaking bukanlah keterampilan tambahan, melainkan bagian esensial dari profesi guru. Ketika guru mampu berbicara dengan sadar, terlatih, dan penuh makna, maka pembelajaran akan terasa hidup. Siswa tidak sekadar mendengar, tetapi merasa dilibatkan dan dihargai.
Belajar public speaking bagi guru pada akhirnya bukan tentang tampil hebat, tetapi tentang membantu siswa memahami, merasa aman, dan tertarik untuk belajar. Di sanalah pendidikan menemukan ruhnya.
Public Speaking dan Guru: Dukungan dari Kajian Ilmiah
Selain itu, studi oleh Darling-Hammond (2017) menegaskan bahwa guru yang terus mengembangkan keterampilan komunikasinya cenderung mampu menciptakan iklim kelas yang lebih positif dan partisipatif.
Pelatihan ini menjadi pengingat bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat, termasuk dalam hal berbicara. Sebab, di setiap kata yang kita ucapkan, ada masa depan yang sedang kita sentuh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar